Kemacetan Arus Mudik Brebes-Tegal 2016, Just Comment

Antrian BBM Mengular
Dampak Kemacetan Arus Mudik Brebes-Tegal
2016
Kemacetan Arus Mudik Brebes-Tegal 2016, Just Comment

Nampaknya penyakit tahunan di sector lalu lintas Negara ini masih belum sembuh juga. Lalu lintas yang lancar jaya selalu jadi idaman semua pengguna jalan. Saya, Agan dan semua orang yang senantiasa menggunakan jalan untuk keperluan bisnis atau keperluan lainnya. Namun, kondisi ideal ini begitu sulit diwujudkan. Tentunya ini menjadi PR Besar bagi seluruh komponen di negara ini. 

Terbukti dari tahun ke tahun, kendaraan di pulau jawa nampaknya kian meningkat. Agan bisa bayangkan jika Agan mengisi gelas Agan secara terus menerus. Apa yang akan terjadi? Luber, kan? Demikian juga jalan bro. jalan dari tahun ke tahun nggak nambah-nambah. Beda dengan populasi kendaraan. Tiap taun semakin meningkat. 

Di jalanan Indonesia, mobil tahun 90an kebelakang masih banyak yang beroperasi. Sementara itu, minat masyarakat untuk membeli produk baru juga nggak kalah banyaknya. Di tambah lagi, pembelian kendaraan bermotor nampaknya sekarang semakin mudah saja. Contoh yang paling ringan, hanya DP 300.000 rupiah saja kamu bisa dapet motor baru. Sementara itu lonjakan penduduk juga kian meningkat. Hal ini berdampak pada daya beli masyarakat yang kian meningkat.


Jika hal diatas sudah terjadi maka yang berikutnya terjadi adalah kemacetan lalu lintas. Kemacetan lalu lintas seperti yang dialami pada H -4 sampai dengan H -2 di jalan-jalan Brebes Tegal juli 2016 misalnya. Ini adalah potret betapa luarbiasanya permasalahan tata lalu lintas di negara kita ini. Yang paling mengejutkan dari kejadian tersebut adalah kemacetan terjadi justru setelah diresmikannya terusan Tol Pejagan – Brebes yang diresmikan oleh Presiden Jokowi. 

Dampak kemacetan lalu lintas yang terjadi selama H -4 -2 yang paling sangat dirasakan adalah sebagai berikut:
  • Konsumsi BBM yang tidak efisien
Konsumsi BBM selama musim arus mudik meningkat. Namun peningkatan ini tidak diiringi dengan peningkatan produktifitas. Lho, kenapa begitu? Karena tujuan dari mobilitas mereka bukan untuk menjalankan bisnis, bukan pula untuk mendistribusikan barang dan jasa. Sebagian besar hanya bersifat konsumtif karena tujuan mereka hanya melakukan urbanisasi mungkin bisa disejajrnkan dengan tour and traveling (ini hanya penggolongan saja). Meskipun tujuan utamanya adalah untuk bersilaturahmi.
  • Kemacetan Menghambat Mobilitas Pemudik dan Warga non-Pemudik

Seperti yang saya jelaskan dari awal dimana saya melogikan gelas yang terus-menerus diisi sehingga luber atau bisa juga disamakan dengan sungai yang tidak bisa menampung debit aliran yang membeludak akhirnya meluap pula kemana-mana. 

Banjir pemudik membuat lalulintas jalan menjadi tidak normal. Karena diwaktu yang nyaris bersamaan semua orang tumpah ruah keluar dari “bendungan”. Menurut pengamatan saya, di tahun 2015, meskipun tol belum beroperasi namun tetap difungsikan untuk memecah arus menjadikan lalu-lintas mudik “sedikt” terbantukan terurai. Tidak seperti sekarang ini, banyak warga brebes yang mempertanyakan “Bisane ka barang tol-e wis dadi kok malah macet nang ndi-ndi yah?” kalimat ini jika ditranslasikan ke bahasa Indonesia akan berbunyi “Kenapa setelah Tol selesai justru kemacetan dimana-mana?”

Jawaban dari pertanyaan diatas ada di postingan saya sebelumnya yang membahas Penyebab Kemacetan Lalu Lintas di Indonesia.

  • 3. Distribusi logistic terganggu

Kemacetan yang berkepanjangan tidak hanya merugikan bagi pengguna jalan secara moril dan materil saja. Salah satunya adalah ketidak tepatan waktu distribusi. Seperti Agan, yang ingin “mendistribusikan” Agan sendiri dan keluarga untuk bertemu keluarga di kampung halaman menjadi tidak sesuai jadwal. Tak apalah, Agan bisa chatting via WA atau pesan singkat kepada saudaramu yang di kampung halaman mengenai kondisi jalan yang tidak sesuai harapan. Namun jika yang terganggu adalah distribusi logistic, ini lebih parah jhon!

Tentunya Agan ingin semua lancar misalnya, pas Agan sedang kehabisan BBM dan pas nyampe di depan SPBU Agan bisa langsung isi ulang BBM tanpa harus ngantri, tanpa harus kecewa stock BBM di SPBU habis, tanpa cemas pula truk tanker pembawa BBM lama nyampenya karena kemcetan yang meng-ular. Itu jika tanpa kemcetan. Artinya, keinginan untuk mendapatkan BBM dalam waktu relative sengkat dapat terpenuhi akan sirna ditelan oleh mengaretnya jam kedatangan tanker BBM yang juga terjebak macet. Ini yang saya alami di SPBU Rengaspendawa Brebes. Hal ini terulang pula di SPBU Dedi Jaya Brebes. 
  • Sampah yang berserakan di jalan

Agan kuat bepergian tanpa makan? Saya yakin nggak bakalan kuat. Selama perjalanan banyak warung-warung makan yang menjajakan makanan dan minuman mengugah selera makan. Meskipun Agan saat itu sedang puasa, saya yakin Agan akan goyah walaupun sedikit, ya setidaknya Agan akan menelan ludah Agan sendiri walaupun Agan masih kuat imannya tetap saja secara alamiah Agan akan tergiur. Saya ucapkan salam super bagi kalian yang melewati masa-masa mudik dengan tetap menjalani puasa secara penuh.

Bagi Agan yang tidak bisa menahan puasa selama perjalanan pasti Agan akan mengkonsumsi makanan dan minuman. Agan sih bisa dengan santainya membuang sampah sembarangan selama melakukan perjalananan tapi –hey- ingat Agan tidak sendirian, dibelakang dan didepan Agan ada orang yang sama-sama makan dan minum dan membuang sampah sembarangan di jalan. Hasilnya, sampah berserakan dimana-mana.

  • Peningkatan Polusi udara dan polusi suara.

Sebelum saya menjabarkan poin ke 5 ini mari kita sepakati dulu bahwa sebenarnya kendaraan Agan pasti mengeluarkan GAS EMISI dan kendaraan Agan juga bisa mengeluarkan bunyi bim…bimm… (suara klakson). Ketka semua penggunaannya normal, dampak polusi udara atau polusi suara tidak akan sangat dirasakan.

Agan bisa bayangkan seseorang berkendara sepeda motor dengan knalpot tidak standar, digeber-geber di depan gang rumah. Apa yang Agan rasakan? Bising, kan? Ini ramai-ramai bro. udah gitu asep knalpot yang “muntah” dari mobil atau motor juragan. Pastinya berdampak pada pencemaran lingkungan.

Arus mudik dan arus balik memang terjadi hanya setahun sekali tapi polusi udara dan polusi suara yang ditimbulkan benar-benar luar biasa.
Meskipun kemacetan selama cuti bersama atau selama arus mudik memberikan dampak negative yang luar biasa namun bukan berarti hal tersebut mutlak adanya. Kemacetan tersebut sebenarnya juga memberikan keuntungan bagi warga non pemudik seperti:
  • Penjualan meningkat, keuntungan berlipat-lipat

Ini mungkin dirasakan oleh sebagian penduduk non pemudik yang memanfaatkan kesempatan ditengah kesempitan.

Agan coba bayangkan. Agan kepanasan, Gerah, Lemes, Tenggorokan Kering, bibir pecah pecah kaya gambar barang pecah pelah. Mata agan melihat segelas es teh yang gelasnya sudah terbasahi oleh keringat es. Terbayang dibenak Agan betapa nikmatnya mereguk kesegaran es teh itu. Lalu agan pun berhenti dan “Mas, es tehnya satu!”. “Berapa Mas?” Tanya agan bermaksud mau membayar es teh yang menggoda tenggorokan agan. “5 ribu, Bang!” jawab penjual es teh tanpa kasian. “Ya udah, nih 5 ribu!” agan membayar dengan ngedumel.

Biasanya, setau saya, es teh harga normal harganya berkisar antara 2000-3000 rupiah saja gan. Bisa agan bayangin kan, keuntungan si penjual es teh ini pasti berlipet-lipet. Udah gitu yang beli bukan hanya agan, agan 1, agan 2, agan 3, agan dst juga pastinya ikut beli.
  • Dapet kenalan baru

Ya tidak didak dipungkiri lagi gan, selama perjalanan pasti Agan merasakan lemas dan harus mampir di warung-warung lesehan di pinggir jalan. Agan pasti ngobrol sama yang punya warung, apalagi kalau yang punya warung ramah and enak diajak ngobrol, apalgi kalo yang punya warung punya pelayan cewek yang ramah dan enak diajak ngobrol, apalagi kalau pelayan cewek yang ramah and enak diajak ngobrol tadi orangnya cakep, ga kalah sama yang dikota tempat agan bekerja, apalagi kalao pelayan yang ramah dan enak diajak ngobrol tadi gampang ngasih nmr tlp. Nah, ini, namanya dapet kenalan baru.

Itu sih hanya contoh, ada juga yang dapt kenalan baru dan mitra bisnis baru. Pokoknya banyak deh lika likunya

Kesimpulan.

Kemacetan Arus Mudik Brebes-Tegal 2016 adalah kemacetan lalu lintas terparah, menurut saya sih. Mungkin, agan-agan pemudik, dan non pemudik juga ngerasaan yang sama khususnya agan yang berdomisili di Brebes-Tegal (wilayah Pantura).

Coba agan bayangkan, Jalur Kereta api udah dobel, Tol juga udah ada, tapi kemacetan tetap exist abis di pulau jawa. Kejadian Kemacetan Arus Mudik Brebes-Tegal 2016 mengkin disebabkan oleh membeludaknya volume kendaraan tidak diiringi pula dengan peningkatan jumlah muat jalan – maksudnya, dari tahun ke tahun jumlah kendaraan terus meningkat sementara fasilitas jalan hanya segitu-segitu aja.

Saran

Melihat kondisi seperti ini sebaiknya semua komponen bangsa di negara Indonesia ini berbenah diri. Mungkin kendaraan bermotor bisa dilakukan system regulasi atau coba tengok negara-negara maju dalam mengatasi kemacetan lalu lintas di negara mereka. 

Selebihnya saya yakin, agan punya saran yang lebih baik dari saya.

Post a Comment

0 Comments